Bagian Pertama: Teori Marx tentang Masyarakat Memproduksi Komoditas

Judul Buku: Teori Kapitalisme Modern
Penulis: Tom Bottomore
Penerjemah: Nolinia Zega & Dipantara Mahardika
Penerbit: Penerbit Independen (PIN)
Halaman: vi + 119
Tahun Terbit: 2019
Peresensi: Denzz Taba (Havelarr)


Sebelum menjelaskan rangkuman sederhana di buku ini, saya ingin pertegas, ini bukan tulisan yang sifatnya mudah dipahami atau tulisan jurnalisme yang mudah dicerna, maka dibutuhkan pendalaman bacaan secara serius dan sistematis, biar tidak multi tafsir dan berakhir pada pemahaman yang dangkal. 


Seklar - Tom Bottomore mengulas kapitalisme secara mendalam kalau Kapitalisme bukan sependek tantang sistem ilmu politik-ekonomi, ia merangkul multi disiplin kajian, ia juga sebuah teori sosial dan historis. Istilah kapitalisme dipopulerkan oleh Karl Marx pada abad 18 setelah menelaah tulisan Adam Smith yang berbicara kapitalisme yang absrud dan tidak secara kompleks. Dalam tulisan monumentalnya 'Das Kapital', Marx menilai kapitalisme sebagai moda produksi yang menyebabkan ketimpangan dan kemiskinan. Marx memperdalam analisisnya dan kritikan terhadap mode produksi kapitalisme yang bersifat ekspolitatif, yang hasil produksinya tersentral hanya pada segelintir kelompok.

Dalam Bab pertama tulisan ini, Tom mengajak kita untuk menelusuri bagaimana masyarakat memproduksi komoditas sebagai eksistensi menggunakan analisis historis. Dalam teori Marx tentang kapitalisme modern di bangun beberapa tahap.

Tahap pertama, mengurai soal proletariat sebagai satu kelas sosial masyarakat yang lahir dari hasil perkawinan feodalisme dan kapitalisme, kelas yang semula menjadi produsen langsung, memproduksi komoditas subsisten dipisahkan dari sarana-sarana produksinya, sehingga menjadi pekerja bebas yang terisolasi, dan menjual tenaga kerjanya pada kapitalis. Marx juga dalam konsepsinya di tahun 1842-1843, melihat proletariat sebagai kekuatan politik dan sebagai kelas yang baru muncul di Eropa dalam perkembangan moda produksi dominan.

Tahap Kedua, Marx bersama Engels (sahabatnya) mempelajari beberapa teori ekonom klasik seperti Say, James Mill, List, Adam Smith dan David Ricardo sehingga melahirkan kritikan atas tulisan teori ekonomi mereka. Ulasan kritik pertama kali terbit berjudul Economic and Philosophical Manuscripts (1844) yang berisi penjelasan tentang kerja manusia merupakan kebutuhan materil hidup manusia. Yang selanjutnya dipertegas Engels, bahwa sebelum melakukan aktivitas lain, manusia harus lebih dulu makan, minum, berpakaian dan bertempat tinggal, semua itu merupakan kebutuhan dasar (materil) manusia.

Tahap Ketiga, Marx kemudian menggabungkan konsepsi kerja dengan perkembangan historis masyarakat, ini dimuat pada pertengahan tahun 1840 yang bertajuk The German Ideology (1845). Dalam penjelasan eksposisi ini, ia menelusuri tentang awal mula masyarakat yang paling sederhana yang memproduksi hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten secara komunal, berkembang hingga ke tahapan yang lebih maju melalui hukum-hukum perkembangannya. Teori ini dalam kalangan Marxis diistilahkan sebagai materialisme historis. Marx juga menenkankan dalam eksposisi ini perlu dilihat ialah bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan materil (berproduksi, membuat alat produksi, dll) sebagai hukum umum yang secara dialektis merupakan faktor menentukan berkembangnya masyarakat.

Setelah mengurai panjang sejarah perkembangan masyarakat yang merupakan fondasi dari karya besarnya Marx A Contribution to the of Political Economy 1859, Marx menetapkan bahwa masyarakat asiatik, feodalistik dan mode produksi borjuis merupakan satu bentuk zaman yang progresif dalam pembentukan masyarakat. Maka dalam sisa hidupnya, Marx meneliti perkembangan kapitalisme di Eropa Barat, hingga pada akhirnya diterbitkan karya besarnya ‘Das Kapital’. Dalam Das Kapital Marx kemudian menguraikan masyarakat borjuis sebagai masyarakat yang memproduksi komoditas secara masif dan bersifat umum dalam tatanan masyarakat dewasa ini.

Dalam Kapital Volume 1 Bab pertama, mengurai dua sifat komoditas, yaitu komoditas yang memiliki nilai pakai (yang berguna, atau memenuhi kebutuhan manusia) dan memiliki nilai, yang dari nilai pakai di konversikan menjadi nilai yang dapat dipertukarkan dengan komoditas yang lain. Tak sampai disitu Marx juga meneliti karakter ganda dari tenaga kerja yang terkandung dalam komoditas, yang mengandung tenaga kerja sosial secara umum dalam artian menciptakan nilai komoditas.

Analisis Marx tentang kapitalisme tidak hanya dipandu dengan tahapan sejarah perkembangannya, tapi juga menggunakan teori sosial tentang kelas sosial, seperti yang kita tahu dalam beberapa tulisannya dia selalu meletakkan analisa tentang kelas di bagian paling depan. Teori tentang kelas diurai secara berulang dalam masyarakat kapitalisme. Penjelasan sebelumnya saya menyentil bahwa ketika kapitalisme dikukuhkan sebagai sebuah sistem sosial-ekonomi, terbagi dua bentuk kelas dalam masyarakat, yakni kelas proletariat – kelas yang tidak memiliki alat produksi – dan kelas borjuis – kelas yang memiliki alat produksi, serta memanfaatkan tenaga kerja kelas proletariat untuk mendapatkan surplus. Secara umum kedua kelas sosial ini terus bertentangan secara politik maupun ekonomi.
 
Kapitalisme dan Tahapan Kesempurnaannya: Pembacaan Sekilas

Tentang kapitalisme perlu analisis yang lebih mendalam. Point diatas, saya menjelaskan secara singkat tentang kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi dimana hasil produksi oleh produsen (proletariat) dicuri dan tidak dibayar. Dalam buku ini juga dijelaskan secara spesifik oleh Tom, dan digaris bawahi olehnya, bahwa paling menarik ketika menganalisis soal tenaga kerja sebagai komoditas. Ia mengutip penjelasan Marx bahwa tenaga kerja sebagai komoditas dalam masyarakat kapitalis memiliki sifat unik, yaitu dapat menambahkan nilai ke komoditas lain. Namun ia juga berbeda dalam beberapa hal, salah satunya ia tak diproduksi sebagai komoditas. Baca tulisan lengkapnya Tom Bottomore di entri “Tenaga Kerja” di A Dictionary of Marxsist Thought (1948).

Tom menambahkan, ciri khas lain kapitalisme yakni eksploitasi tenaga kerja dilakukan secara halus, berbeda dengan masyarakat sebelumnya yang prosesnya dilakukan melalui ekstra-ekonomi atau paksaan – seperti budak dan hamba – sementara dalam masyarakat kapitalisme, pekerja-upahan (buruh) terlibat langsung dalam aktivitas produksi ditukar oleh komoditas dalam bentuk lain, dan dari nilai yang sebenarnya, dalam kenyataannya hal itu sengaja disembunyikan.

Analisis Marx kemudian menjadi unsur dasar yang memberi uraian tentang kapitalisme murni yang tidak hadir dari kesimpulan teorinya, tapi dilihat dari study kompherensif tentang sejarah perkembangan kapitalisme secara kongkrit. Salah satunya soal dipengaruhinya perkembangan mesinisasi yang menjadi pertanda kapitalisme sudah mencapai pada fase sempurnanya, dan seluruh tenaga kerja dibawah kontrol modal. Yaitu bagaimana mesin menjadi dominasi dalam proses produksi. Mesin yang harusnya dikontrol oleh pekerja kini berbalik, mesin yang mengontrol pekerja, (Kapital, Vol. 1, Bab 13).

Perkembangan mesinisasi selalu ditekankan dan didorong oleh dua faktor, yaitu melalui revolusi industri dan persaingan antar kapitalis. Revolusi industri yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan (sains) pada akhirnya membuka ruang untuk eksploitasi alam, transformasi instrumen kerja menjadi intrumen yang hanya dapat digunakan tenaga kerja kooperatif. Selain itu memobilisasi semua orang sehingga terikat dengan pasar global, yang disebut Marx, sistem kapitalisme Internasional. Marx menyatakan bahwa perkembangan mesinisasi yang kemudian menjadi basis pertumbuhan pengetahuan ilmiah, dan mempengaruhi dan memperluas karakter sosial dari kerja.

Dalam skala yang terus meluas, bentuk kooperatif dari proses kerja, kesadaran tentang sains, eksploitasi terencana terhadap bumi, transformasi instrumen kerja menjadi instrumen yang hanya dapat digunakan dalam kerja kooperatif, pengehmatan semua alat produksi dengan penggunaannya sebagai alat produksi gabungan, komunalisasi pekerja, keterikatan semua orang dijaringan pasar dunia, dan dengan ini, karakter internasional dari sistem kapitalis”. (Kapital, Vol. 1, Bab 24).

Penjelasan-penjelasan diatas merupakan tinjauan analitik Marx yang berperan penting dalam memantapkan teoritisnya tentang perkembangan kapitalisme dan transisinya ke sosialisme.

Persaingan antar sesama kapitalis merupakan faktor kedua dalam mengukuhkan kesempurnaan kapitalisme modern. Lebih lanjut yang ia urai tentang kapitalisme, yaitu tentang modal melalui kajian empirisme yang menjadi keharusan dari produksi kapitalisme, dimana setiap individual kapitalis saling bersaing dan memainkan mesin sebagai peran utama. Sehingga melalui mesinisasi terjadi kesinambungan produktivitas tenaga kerja hingga massa nilai yang didapat dari produsen kapitalis individu lebih meningkat. Maka perkembangan teknologi merupakan syarat penting dalam perkembangan mesinisasi yang ditopang oleh persaingan kapitalis. 

 
Persaingan dan Underconsumtion; Sebuah pengantar

Dalam konsentrasi modal, efek sosio-ekonomi yang lain juga dapat terjadi dalam mesinisasi pabrik. Marx membedakannya dalam dua proses. Pertama, konsentrasi yang dia maksud ialah pertumbuhan massa modal melalui proses akumulasi nilai lebih, yakni reinvestasi keuntungan dalam bentuk lain, yakni mengadakan alat-alat produksi baru. Kedua, ia sebut sebagai “sentralisais” yakni terjadi sistem kompetisi antar kapitalis, hingga berakhir pada "yang lebih lemah akan di hisap oleh yang lebih kuat". Ini berarti keharusan konsentrasi modal tersentralisasi hanya pada segelintir penampung, yakni harus didominasi perusahaan raksasa yang didorong oleh mesinisasi secara konstan dengan modal yang besar, merevolusi metode produksi dengan mesin-mesin yang maju. Bahasa sederhananya “seorang kapitalis selalu membunuh lebih banyak orang”.

Dua hal tentang perkembangan kapitalisme diatas menurut Tom ialah kepentingan fundamental kemajuan teknologi hingga kecenderungan yang mendasari untuk menciptakan skala produksi yang meningkat. Selain itu juga akan dijelaskan bagaimana teori Marx tentang krisis kapitalisme yang mendapat perhatian dari para ekonom seperti Schumpeter. Ini akan dibahas dalam bagian selanjutnya.

Teori ekonominya, Marx belum secara lengkap mengulasnya, misalnya yang di uraikannya dalam pengantar Grundrisse 1857 yang membahas “pasar dunia dan krisis”. Menjadi kewajiban kaum Marxis mengembangkan teori ini. Salah satunya teori Underconsumtion Rossa Luxermburg, ia mengelaborasi teori Marx yang bersumber dari (Kapital. Vol 3, Bab 30), disitu Marx menyatakan bahwa 

“Penyebab utama dari semua krisis yang nyata selalu ada kemiskinan dan konsumsi terbatas dari masyarakat, berbeda dengan kecenderungan produksi kapitalis untuk mengembangkan kekuatan-kekuatan produktif seolah-olah hanya kekuatan konsumsi masyarakat yang mutlak yang membatasi mereka”

Dan beberapa point lainnya juga dibahas dalam (Kapital, Vol. 2, Bab 20) tentang “Konsumsi sesuatu yang mewah”. Pengembangan teori tersebut yang dilakukan oleh Rossa, juga Sweezy mendapat kritikan serius karena tidak berdasar pada pendekatan secara serius dan luas yang ditulis Marx.

Pembahasan tentang pengembangan dan elaborasi teori Marx lebih dalam soal; perkembangan kapitalisme, krisis, dan transisi menuju sosialisme akan dibahas terpisah dari lembar rerensi bagian ini.


Penulis: Denzz Taba (Havelarr), merupakan Sekretaris Jenderal Sekber Malut


Posting Komentar

0 Komentar