![]() |
| Foto Istimewa Penulis |
Perempuan selalu identik dengan lemah, lembut, penyayang,dan sabar. Perempuan bersifat keibuan. Sedangkan budaya merupakan sesuatu yang sudah di tanamkan didalam masyarakat sejak dulu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua tahu bahwa budaya sangat erat atau tak terpisahkan dari manusia, terutama perempuan, baik dalam peran maupun tindakan.
Setiap etnis memiliki budaya dan adatnya masing-masing, setiap adat dan budaya di setiap tempat pula memiliki perbedaannya tersendiri. Kebudayaan lahir dan berkembang dalam sistem kehidupan masyarakat. Ada berbagai macam definisi tentang kebudayaan. Mulai dari buah pikiran manusia hingga ciptaan hidup dari suatu bangsa.
Budaya
Ilmu seputar kebudayaan dan perilaku manusia dipelajari dalam Antropologi. Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang diperoleh dengan cara belajar, dikutip dari buku Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya oleh Tedi Sutardi.
Menurut Tylor, kebudayaan adalah sistem kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan, serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Malinowski mendefinisikan kebudayaan sebagai penyelesaian manusia terhadap lingkungan hidupnya serta usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sesuai dengan tradisi yang terbaik. Dalam hal ini, Malinowski menekankan bahwa hubungan manusia dengan alam semesta dapat digeneralisasikan secara lintas budaya.
Adat bersifat mistik, dan budaya itu sudah di lestarikan secara turun temurun, sedangkan budaya patriarki itu di buat oleh masyarakat sendiri. Setiap masyarakat memiliki pandangan, bahwa sebaiknya perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, apalagi dalam kalangan masyarakat desa. Para Masyarakat di desa selalu beranggapan, "perempuan itu tugasnya, memasak, menjaga anak, dan melayani suami’’, tak perlu berpendidikan tinggi bila perlu pendidikannya batas sampai ke tingkatan SMA saja bahkan ada yang hanya menempuh pendidikan sampai tamat SD, hal serupa ini pun banyak terjadi di desa.
Sikap Masyarakat Lokal Terhadap Perempuan
Di desa masyarakat lebih menganggap jika perempuan berpendidikan hanya membuang-buang uang. karena setinggi apapun pendidikan yang ia capai ujung-ujungnya akan kembali ke dapur, kasur dan sumur. Sehingga hal seperti ini membuat beberapa perempuan di desa Wayatim tidak mampu mengenyam dunia pendidikan. Sebut saja R.
R adalah seorang perempuan yang hanya merasakan pendidikan sampai ke tingkatan SD saja, paska ia lulus SD ia sudah tidak lagi melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi (SMP, SMA). karena melihat pandangan masyarakat soal kodrat perempuan, tanpa mereka sadari kodrat perempuan bukanlah menjadi babu, bahkan melayani siapa saja, melainkan kodrat dari seorang perempuan adalah melahirkan,menyusui, dan menstruasi. Soal mencari uang bahkan terjun ke dalam ranah politik bukanlah kodrat melainkan keharusan bagi siapa saja.
Bahkan masyarakat, seperti studi kasusnya di Desa Wayatim Halmahera Selatan, spesifiknya lebih berasumsi ketika perempuan sudah berkeluarga (menikah), maka dia akan di hidupkan oleh suaminya. Pandangan seperti inilah yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.
Bukan saja soal budaya yang membuat perempuan desa Wayatim banyak yang tidak berpendidikan, melainkan dari segi ekonomi, ada keharusan beberapa perempuan desa Wayatim yang harus putus dalam pendidikan karena dilihat dari ekonomi keluarga sehingga hal ini menyebabkan beberapa perempuan desa Wayatim harus menikah mudah. Ada juga yang terpaksa tidak berpendidikan dan memilih membantu keluarga dalam mencari uang agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Katakanlah (M), ia adalah seorang perempuan yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan di jenjang lebih tinggi (kuliah). (M) yang memilih tidak melanjutkan pendidikannya demi bisa membantu keluarga dalam perekonomian, mengharuskannya harus mencari pekerjaan agar bisa mendapatkan uang.
Hal ini serupa yang sering terjadi didalam lingkup masyarakat terkhususnya di desa Wayatim, belum lagi kebutuhan hidup yang semakin besar membuat beberapa perempuan desa Wayatim harus menelan pahitnya dunia pendidikan yang terbatas.
Penulis sengaja membuat tulisan ini untuk menjadi rekomendasi terhadap masyarakat yang padangannya kepada perempuan melalui Culture yang sempit.
Penulis: Annelis, Coordinator Biro Pembebasan Perempuan (SPP)
Editor: Ali S

0 Komentar