Reposisi Gerakan Mahasiswa

"Reposisi Gerakan Mahasiswa untuk Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Gerakan Moralitas dan Populis".


"Tengah masifnya program pembangunan infrastruktur nasional, berdampak serius sektor agraria, dalam pengertian sempit yakni tanah sebagai objek sasaran pembangunan. Problem agraria yang semakin kompleks menyebabkan konflik agraria sebagai anak kandung, yang lahir dari perampasan tanah rakyat".


Kritik Gerakan Mahasiswa Populis

Seklar - Tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK dengan sembilan program prioritas yang dikenal dengan sebutan NAWACITA, diantaranya terdapat "Land reform dan program kepemilikan Tanah seluas 9 juta hektar" yang dinilai oleh banyak pihak sebagai reforma agraria palsu. Oleh karena orientasi dari reforma agraria ialah perombakan terhadap struktur agraria, terutama dalam hal kepemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam. 57 tahun perjalanan UUPA 1960 yang dinobatkan sebagai "Hari Tani Nasional" dan diperingati setiap tanggal 24 September, hingga saat ini masih menuai berbagai perdebatan, dikarenakan disisi lain dari kebijakan Land Reform ada program ambisius lain, yakni pembangunan nasional untuk kepentingan umum, dimana diterjemahkan kedalam RPJMN 2015-2019. Pembangunan infrastruktur nasional menyisahkan cacatan buruk terhadap perampasan tanah rakyat. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat sepanjang tahun 2017 terjadi 659 konflik agraria dengan luasan lahan mencapai 520.491.87 hektar, yang melibatkan sedikitnya 652.738 kepala keluarga. Selama Tiga tahun pemerintahan Jokowi-Jk (2015-2017) telah terjadi 1.36 konflik agraria, jumlah konflik meningkat 50℅ dari tahun 2016.

Gerakan Mahasiswa harusnya kembali berada di tengah-tengah massa dengan kesadaran serta analisis kritis terhadap fenomena sosial belakangan ini yang menjadi konsumsi publik khususnya problem Agraria, kehadiran mahasiswa sangat membantu untuk mendorong persatuan gerakan rakyat ditingkat sektoral. Kebangkitan gerakan mahasiswa saat ini, cenderung sebagai gerakan yang bersifat populis. Gerakan populis pada akhirnya mempertegas watak oportunisme dan klasnya sebagai borjuasi kecil.  Gerakan mahasiswa dapat dibagi menjadi 3 tingkatan, yakni: Populis-populis, Populis-elitis dan Elitis-elitis. Meminjam bahasa Antonio Gramsci, bahwa mahasiswa sebagai intelektual organik yang merupakan penentu kebijakan suatu negara dalam meneguhkan hegemoni. Dalam hal ini, intelektual bukan sekedar aktivitas berpikir semata, melaikan mencakup banyak aspek mengenai peran dan keberpihakan. Mahasiswa dapat diposisikan sebagai "pressure group" yang dapat menekan kebijakan yang dikeluarkan oleh negara. Bagaimana mahasiswa dapat mengkonstruksi realitas tersebut menjadi adil dan kemudian mampu menghasilkan pengetahuan yang memberdayakan dan membebaskan manusia, dari penindasan serta penghisapan. Artinya seorang intelektual harus mempunyai kesadaran politik kritis terhadap dominasi hegemoni suatu sistem yang tidak adil, menindas dan eksploitatif.


Sumber Gambar : Pinterest

Kerancuan dari gerakan mahasiswa saat ini, selalu terbentur dengan aktivitas kampus yang berdiri sebagai tembok pemisah antara mahasiswa dan rakyat. Oleh karena itu, dalam beberapa persoalan konflik agraria, selalu lambat dalam merespon situasi yang terjadi, mahasiswa baru hadir disaat situasi mulai ada penggusuran dan sebagainya. Langkah-langkah antisipatif sangat jarang dilakukan, sehingga berujung pada perdebatan metode perjuangan. Tidak heran ketika kehadiran mahasiswa dilokasi penggusuran, sering menuai banyak kritikan dari masyarakat yang menganggap sekedar menumpang eksis dan narsis. Kasus terbaru di Yogyakarta misalnya, jauh sebelum penggusuran dilakukan, tidak banyak yang ingin terlibat dalam membantu warga menolak pembangunan bandara baru di Kulon Progo, namun saat penggusuran telah dilakukan kaum intelektual berbondong-bondong membanjiri lokasi lalu unjuk gigi atas perjuangan rakyat setempat. Anehnya kehadiran solidaritas secara mayoritas tidak memahami kasus bandara. Sederhananya dapat dikatakan bahwa perjuangan tanpa dasar kesadaran atas kondisi obyektif, yang terjadi dilokasi merupakan kesalahan terbesar seorang intelektual. Harus dipahami bahwa memperjuangkan nasib rakyat yang ditindas, maka kasusnya harus dipahami dan dianalisis secara komprehensif kemudian dirumuskan langkah-langkah yang ingin ditempuh.

Kekeliruan dari kaum intelektual merupakan aksi yang bentuknya relatif dan spontanitas, pada akhirnya terlihat sporadis dan tidak terpimpin. Kritik atas intelektual yang hanya sekedar aksi ikut-ikutan dan panggilan moril merupakan wujud nyata dari watak klasnya sebagai mahasiswa. Teori dan praktek menjadi tidak berimbang yang berdampak serius terhadap hasil analisa yang dangkal, gagap dan ahistoris. Kata V.I Lenin bahwa "tidak ada praktek yang revolusioner tanpa teori yang revolusioner". Berdasarkan atas kondisi kebangsaan saat ini, dimana proses produksi kapitalisme yang semakin hari terus mengalami perkembangan dan semakin agresif, dalam menciptakan penindasan serta negara yang berwatak represif, tentu mengembalikan gerakan mahasiswa ditengah massa rakyat, menjadi suatu keharusan sejarah. Mahasiswa harusnya memberikan afirmatif atas keberpihakannya terhadap rakyat, bukan berjuang atas nama rakyat untuk kepentingan elit. Penghancuran watak dan bunuh diri klas sudah semestinya dilakukan oleh mahasiswa sedari awal. Karena esensi dari kita selaku mahasiswa sebetulnya dituntut untuk merubah keadaan, bukan diperbuat keadaan, sebab perubahan sejatinya lahir atas kehendak rakyat berdasarkan kontradiksi dalam hubungan sosial.

Kritik konstruktif atas gerakan mahasiswa yang populis-elitis merupakan hal yang sangat lazim dilakukan oleh rakyat ditingkat sektoral, maka tidak ada alasan anti kritik serta pleidoi atas kritikan tersebut, harus diakui bahwa gerakan yang terfragmen dan sektarian dapat mempersulit upaya mendorong persatuan gerakan yang meluas dikalangan kaum intelektual, pada gerakan dalam merespon keadaan, hingga akhirnya yang ada hanyalah euforia gerakan yang populis dan jatuh pseudo gerakan mahasiswa.

"Gerakan Mahasiswa Bukanlah Tempat Bernyanyi Riang Revolusi di Jalan Raya".

Euforia Gerakan Mahasiswa

Tidak heran ketika melihat gerakan mahasiswa, kebanyakan bernostalgia terhadap keperkasaan gerakan dari momentum-momentum sebelumnya, hingga lahir kelas atas mahasiswa sebagai Agen of changes, yang pada akhirnya menganggap dirinya superior hingga masing-masing organ dengan arogansinya menganggap paling besar, kuat, dan paling banyak berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Euforia merupakan kecelakaan gerakan mahasiswa secara politik, adahal jika dilihat lebih detail pun sampai saat ini tidak banyak oraganisasi kemahasiswaan yang aluminya berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara, demi kepentingan seluruh rakyat tanah air, yang ada justru ketika disuguhkan dengan berita aib mantan aktivis kemahasiswaan dari organisasi besar dan berbau agama yang korupsi uang negara, belum lagi wakil rakyat dan pejabat negara lain yang bangga, dan tidak tahu malu memakai rompi orange dengan status sebagai tahanan KPK.

Sebagai penutup bahwa, gerakan mahasiswa yang paling populis cenderungnya kompromis dan tidak berani konfrontatif, gerakan tersebut biasanya mengatasnamakan rakyat namun tujuannya untuk kepentingan elit. Oportunis merupakan ciri khas dari watak klas yang dianut. Belum ditambah dengan metode atau konsep perjuangan yang terlihat elegan dan penakut, intinya bahwa gerakan populis tidak lahir dari kesadaran kritis, progresif, dan revolusioner. Melaikan atas suatu dorongan dari atas yang sifatnya instruktif. Karena itulah yang menjadi metode dari gerakan tersebut lebih banyak pertimbangan serta kembang keyakinan atas dasar hubungan senioritas yang kuat.

Penulis : JKR Zoel Moti
Editor : Denzz




Posting Komentar

0 Komentar