Kesederhanaan Dalam Memandang Gerakan Kiri

Foto istimewa Penulis

Seklar - Kodrat manusia ialah ingin tahu. Seperti yang dijelaskan dalam tulisan Aristoteles. Ia mengatakan bahwa, keingintahuan merupakan suatu proses memperpanjangkan nalarnya manusia sebagai spesies biologis.

Ia juga mengatakan bahwa menjadi kiri bagi orang yang belum fasih dalam persaingan filsafat, tentunya akan menjadi suatu hal yang negatif dalam melawan ajaran Agama dan Negara. Seperti kita sering mendengar dari ucapan mulut orang bahwa, "Kiri itu Ateis, Kiri itu tidak bertuhan, Kiri itu anarkis, Kiri itu bertentangan dengan ajaran-ajaran agama dan negara."

Bila kiri ditafsirkan seperti gerakan  diatas maka, semuanya tidak beda jauh dengan negara hari ini.  Yang menjalankan kebijakan melampaui sifat kemanusiaan (Humanisme).

Mari kita coba mengilustrasikan seorang gerakan Kiri dan seorang non gerakan Kiri (kanan). Pada satu waktu tertentu, terjadi kekacauan kebijakan di satu Universitas, dan Universitas mengeluarkan aturan yang tidak sesuai dengan kemampuan mahasiswa, bahkan merugikan mahasiswa secara ekonomis dan ilmu pengetahuan, pada saat itu lahir sebuah pilihan bagi seorang gerakan kiri dan seorang Non gerakan kiri. Apakah golongan kiri atau non kiri harus melawan ataukah diam mengikuti aturan?, sementara bila melawan maka terancam nilai dan tidak lulus mata kuliah.

Pada posisi seorang intelektual tentunya yang sadar akan lebih memilih melawan. Kalaupun tidak semuanya ikut terlibat dan sadar akan hal itu. Poros kebijakan yang salah tentunya tidak bisa dibiarkan, apalagi orang yang berstatus sebagai mahasiswa dan berkecimpung di dunia pergerakan; notabenenya telah mampu melihat dan mendeskripsikan kekuasaan dan kebijakan. Tapi tidak untuk golongan gerakan reaksioner (mengatasnamakan kesejahteraan demi terpenuhinya kekuasaan).

Dan hal yang sering kali terjadi dilingkungan mahasiswa ialah kebobrokan dan acu terhadap permasalahan sosial. Sebab, kesadaran bertindaknya masih dibawah cengkeraman birokrat akademik. (mungkin mengejar reputasi bukan solusi). Akhirnya mahasiswa lebih memprioritaskan angka (nilai) dibandingkan dengan problem sosial.

Dengan Ilustrasi di atas dapat kita menarik satu kesimpulan bahwa siapa yang lebih buruk dan siapa yang berkemanusiaan. Ilustrasi di atas menggambarkan kehidupan sehari-hari si pembaca tulisan ini. Namun tidak sederhana itu menjadi seorang kiri, Ilustrasi itu bila di cermati dengan sikap politik, maka ilustrasi di atas masi bersifat kiri yang mengedepankan moralis, artinya kepeduliannya bersifat sementara.

Sedangkan seorang kiri memiliki sikap perjuangan, ideologi, dan sikap politik tertentu yang mengedepankan kepentingan masyarakat lemah dan masyarakat pekerja.
Apa yang ditulis Aristoteles di atas, bahwa Kodrat manusia ialah rasa ingin tahu.

Sebagai intelektual manusia, untuk memandang atau bernaung di wadah-wadah gerakan tentunya ia tidak sekedar ingin tahu, namun ia harus juga belajar tentang metode gerakan seperti  kerangka pikir untuk membentuk kesadarannya atas melihat fenomena-fenomena yang berkembang dan menjadi sebuah fakta yang belum tentu fakta itu merupakan pembenaran realitas rill. Rasa ingin tahu seorang Kiri, adalah upaya untuk mengerti hubungan-hubungan antara manusia dan manusia, manusia dan alam dan seterusnya hingga mencapai pada kebenaran rill.

Dalam kehidupan sosial terdapat bentuk kondisi materi yang berbeda-beda, sehingga diharuskan sebagai orang memperjuangkan kebenaran dia juga harus memiliki metode atau pedoman kehidupan tertentu, ia akan menjadi intelektual yang cenderung berekspektasi tentang hal-hal  yang tidak pokok dipikirkan, jika tidak ada pedoman atau metode tertentu, sehingga membuat ia terjebak dalam dunia kebingungan untuk menafsirkan perubahan ataupun kondisi situasi yang terjadi, (tidak objektif), dan melampaui pemahaman ilmiah.

“Sebanyak apapun buku yang di baca, sebanyak apapun pengetahuan yang di konsumsi, satu waktu ia akan menggunakan watak aslinya sebagai manusia secara individu”. Hal ini menjadi penting bagi seorang gerakan kiri dalam melihat dan tidak terlalu buru-buru untuk mengambil keputusan di tengah-tengah kondisi. Sebab, watak asli individu seseorang, sering mengutamakan moralis dan juga  egosentris yang berpotensi menjauhkan diri dari kebenaran objektif.

 

Penulis: JR Intuisi Rap 1997

Penyunting: Ali S

Posting Komentar

0 Komentar