Situasi Nasib Petani di Indonesia

 

Ilustrasi. (Source: Pinterest)



"Petani penggarap tanah, mengusahakan produksi barang pertanian dari tanahnya dan memperoleh hasil dari usahanya".
Seklar - Situasi negara yang kian hari selalu dikeruk oleh sistem kapitalisme, membuat masyarakat kelas bawah berada pada posisi kematian, akibat fluktuasi kebijakan yang mendominasi kepentingan penguasa.

Masyarakat terus dijajah oleh kemiskinan, penderitaan selalu menghantui mereka. Bagaimana tidak? kebijakan pro pasar seakan-akan tak memikirkan kehidupan kelas bawah, dalam hal ini Petani. 

Kehidupan para petani yang selalu mempertahankan hidup dengan bertani setiap saat, hanya untuk kelangsungan hidup dan juga membiayai pendidikan  anak-anaknya.

Petani yang hidup dalam suatu konteks bangunan ekonomi dan politik agraria tertentu. Bangunan itulah yang menetukan nasip kaum petani.  Dalam konteks suatu bangunan pun nasib petani berbeda-beda , dalam masa orde baru, petani yang tak memiliki tanah (buru tani) berbeda dengan petani yang memiliki tanah luas.

Perbedaan nasib petani  ditentukan juga oleh praktek program agraria yang mengenainya, petani  yang terkena oleh program Revolusi hijau, berbeda nasib dengan petani yang terkena oleh program PIR-Bun. Baca (Noer Fauzi Rachman. Hlmn.223")

Dalam hubungan produksi tertentu, petani selalu melakukan hubungan dengan kelas yang berkuasa (tengkulak, kabir, dll). kedudukan petani selalu menggantungkan nasibnya terhadap kelas yang dominan dalam masyarakat. Sulit sekali bagi kita untuk menemukan petani yang semata bergantung pada kondisi internalnya.

Seperti yang kita jumpai di berbagai tempat yang hampir semua sama di jerat oleh sisitem kapitalisme (pemilik modal). Sistem ini merupakan suatu sistem perekonomian  yang di kuasai oleh para penguasa, komprador, pemilik modal dan penguasa daerah.

Tidak berbeda jauh dari zaman-zaman sebelumnya nasib petani yang selalu memiliki hubungan dengan kelompok lain. Dilihat dari bangunan feodalisme, petani yang menjadi penggarap tanah nasibnya selalu bergantung pada mekanisme bagi hasil dan pajak yang di bebankan oleh penguasa tanah (Raja dan Aparatnya).

Dalam bangunan kapitalisme kolonial, nasib petani di tentukan oleh program-pogram agraria penguasaan kolonial, dalam masa orde lama, nasib petani ditentukan oleh kekuatan-kekuatan Ekonomi politik yang bertarung pada tingkat nasional, sedangkan pada masa orde baru, nasib petani di tentukan oleh modal dan kekuasaan negara. ("Noer Fauzi Racman:235"). 

Nasib petani belum seutuhnya berubah, dan selalu menjadi objek eksploitasi. Eksploitasi terhadap petani telah terjadi dalam berbagai cara produksi, cara produksi eksploitasi yang terjadi pada masyarakat yang biasa di sebut sebagai diferensiasi sosial.

Deferensiasi sosial adalah proses penggolongan di dalam masyarakat berdasarkan penguasaan terhadap alat-alat produksi dan modal, termaksud tanah. ("Petani dan Penguasa").

Kehidupan masyarakat secara umum di indonesia dalam jerat kapitalisme selalu menghasilkan diferensiasi sosial merupakan konsekuensi dari perkembangan kapitalisme, lain dari itu pengumpulan modal dari kapitalisme adalah berlangsungnya proses pemisahan petani dari alat produksinya, dari petani penggarap menjadi buruh upahan.

Kita tahu bagaimana watak dari kapitalisme di indonesia yang telah lama tumbuh dan berkembang. Sehingga diferensiasi sosial selalu berhubungan dengan watak intervensi pemerintah terhadap masyarakat pedesaan.

Depolitisasi terhadap petani pada masa orde baru yang berbeda dan mulai menjalankan program-program agraria, yakni revolusi hijau, eksploitasi hutan sebagai komoditi dan agroindustri, yang melalui mesin ekonomi dan politiknya. Diferensiasi sosial yang sudah berkembang di masa kolonial pun memperoleh penguatan.

Konflik-konflik agraria pun berkembang meluas antara golongan petani yang menjadi korban dengan golongan dalam masyarakat yang menjalankan dan menikmati (hasil-hasil) mesin ekonomi politik. ("Petani dan Penguasa") .

Tidak bisa di pungkiri bahwa kapitalisme juga mengalami dilema, dalam hal ini adalah over produksi (produksi berlebih) dan undercomsution (konsumen berlebih). Dilihat dari kondisi masyarakat pedesaan, salah satunya adalah desa Wayatim, Kec. Bacan Timur Tengah (Hal-sel) yang mayoritas masyarakat adalah petani.

Biar kami perkenalkan, Wayatim adalah desa dengan kekayaan alam yang melimpah ( kelapa, pala, cengkeh, dll). Namun mayoritas masyarakatnya adalah petani kelapa. Meskipun terdapat banyak sekali kelapa akan tetapi tidak mampu menjamin kesejahteraan masyarakat setempat.

Pertama-tama kita perlu melihat keumuman kontradiksi, bahwa terjadi pengalihan cara produksi petani kopra, yang kehilangan akses produksi akibat campur tangan borjuis nasional.  

Dilihat dari harga kopra saat ini yang mengalami penurunan harga yang drastis dari 12 ribu perkilo menjadi 5 ribu perkilo. Hal ini membuktikan bahwa kapitalisme saat ini sedang mengalami over produksi (produksi berlebih) dalam mengelola kopra menjadi bahan jadi, sehingga langkah yang di ambil adalah menurunkan harga. 

Hal ini menjadi satu problem bagi petani yang semakin teralienasi dari kelas sosial, jatuhnya harga kopra, pendidikan yang mahal, kenaikan harga bahan pokok, naiknya harga BBM mengakibatkan masyarakat/petani harus menjual tenaga kerjanya ke perusahaan. Pertanyaannya kenapa harus ke perusahaan? Jawabannya sederhana, "BIYAYA HIDUP YANG TINGGI”.

Sebab upah buruh saat ini telah melewati gaji pegawai negeri, dan mampu mengalahkan harga dari komoditi lokal, sehingga jangan heran jika banyak sarjana, anak sekolah, sampai orang dewasa rela menjual tenaganya ke perusahaan.

Karena kapitalisme adalah kelas yang paling revolusioner maka setiap detik kapitalisme selalu memperbaharui corak produksinya, upah buruh di naikkan, sedangkan harga bahan pokok tidak mampu di jangkau oleh masyarakat bawah.(baca Semaun penuntun kaum buruh).


Penulis: Annelis dan Roem
Penyunting: Ali S & Denzz Taba (Havelarr)

Posting Komentar

0 Komentar