![]() |
| Foto Istimewa Penulis |
Seklar - Karya sastra abad pertengahan yang dianggap monumental oleh Cervantes, Pedro de Valencia, Diego de Saavedra Fajardo, Lope de Vega hingga Jhon Locke dialamatkan kepada conquista de las islas Malucas karya prosa oleh penyair dan sejarawan asal Spayol, Bartolomé Leonardo de Argensola, yang di terbitkan di Madrid pada tahun 1609, dan historie memorable de Dias espagnol, et de Quixaire princesse des Moluques, sebuah Novel Prancis tahun 1615 yang ditulis oleh Louis Gédoyn de Bellan. Keduanya menjadi rujukan penulisan The Island Princess tahun 1621, sebuah karya tragikomedi Jhon Fletcher yang mengambil latar belakang “kepulauan rempah”. Meski demikian, karya-karya tulis abad 16 tidak menceritakan apapun tentang penduduk “pribumi”, selain lakon-lakon tentang kekaisaran bangsawan, kehidupan glamour, peperangan, perjanjian, dan penaklukkan. Seakan-akan intrik politik territori antara Sultan dan para Bangsawan dengan Sultan dan para Bangsawan lainnya di Maluku Utara hanya dapat di baca melalui daya magis Eropa.
Kemungkinan hal yang sama juga di adaptasi oleh penulis Tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer, khususnya tentang Princess Van Kasiruta. Begitupun dengan hikayat-hikayat yang mucul pada tahun 1870-an: hikayat Bacan, hikayat Ternate dan Tidore. Dan yang muncul belakangan, hikayat Rua Ake Rica. Sehingga kita tidak akan menemukan bagaimana karya-karya tulis abad pertengahan dan awal abad modern itu menggambarkan The Island Princess of Molucca sebagai sebuah Pulau dengan kelompok masyarakat di mana kelas pekerja – menjadi kunci Rempah-rempah – yang di subordinat melalui dominasi politik, hegemoni sastra, dan supremasi ekonomi. Selain gairah, seperti yang dikatakan Conrad (dalam Turner 2019:40), “sesasi api cinta yang menggelora dalam dada” bagi bangsawan Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris.
Tragikomedi dibaca sebagai gairah Eropa dan sensasi rempah. Tidak lebih. Dan memang hanya itu yang di gambarkan. Tidak ada yang membahas dan menunjukkan bagaimana pengarahan tenaga kerja untuk produksi rempah – khususnya perkebunan cengkih di lima pulau kecil yang membentang digaris katulistiwa di pantai lepas barat Halmahera. Pengarahan tenaga kerja memainkan peran penting bagaimana cengkih beredar di pasar-pasar Jazirah Arab, Alexandria, Levant, hingga akhirnya menjadi hidangan di meja makan bangsawan Eropa. Bahwa cengkih tumbuh secara liar di Bacan, Makian, Moti, Ternate dan Tidore, bukan berarti tidak ada pola produksi yang sistemik – di mana tenaga kerja diperlukan untuk panen.
Segara muncul pertanyaan tentang siapa yang memanjat pohon cengkih, mengumpulkannya di dalam jala, dijemur hingga kering; apakah pola produksi cengkih pra-kolonial nir-eksploitasi sehingga pembahasan tentang tenaga kerja yang diperlukan untuk panen tidak begitu penting untuk di bahas; ataukah karya-karya tulis abad 16 tentang “kepulauan rempah” terlalu mengglorifikasi kekaisaran bangsawan dan dengan sengaja menghilangkan esensi rempah sebagai sebuah tanaman yang di produksi melalui mekanisme kerja.
Penulis: Ceos Arendt, merupakan ketua Comite Central Forum Sekolah Bersama
Penyunting: Ali S

0 Komentar