Kata Pengantar.
Seklar - Diskursus yang berkaitan dengan Militerisne bukan-lah suatu hal yang baru di Indonesia, dalam catatan sejarah pengaruh militerisme di Indonesia itu cukup besar, baik dalam hal pengamanan kedaulatan Negara maupun keterlibattan dalam ranah masyarakat sipil, dan proses pembentukan militerisme di Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang.
Yang kita tahu tugas-tugas pokok militer itu lebih substansi berkaitan dengan pengaman kedaulatan Negara ketika ada ancaman dari Negara-negara lain (Perang), akan tetapi melihat militerisme itu harus secara kongkret mengunakan analisis kelas dan perjuangan kelas, maksudnya selain melihat militer dari perspektif keamanan kita juga harus melihat militerisme dari perspektif yang lain. Mari kita mulai perdebatan kita dengan ucapan bahwa hari ini Indonesia dipimpin oleh Manusia yang bernama Prabowo, dan Prabowo itu hidup dan besar dalam tubuh internal militer di Indonesia.
1. Sejarah Singkat ABRI
Lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) berawal dari dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR), didalam sidang persiapan kemerdekaan Indonesia tanggal 22 Agustus 1945, pembentukan BKR diusulkan oleh dua orang anggota PPKI yaitu Abikoesno Tjokrosoejoso dan Otto Iskandardinata. Ketika itu BKR berada dibawah wewenang Badan Pembantu Presiden atau Komite Nasional Pusat. Pada mulanya BKR ini bukan merupakan sebuah Organisasi kemiliteran yang resmi, akan tetapi BKR adalah kelompok yang menjaga keamanan dari penjajahan, yang anggotanya merupakan pemuda dan rakyat yang telah mengikuti pendidikan militer dari PETA dan KNIL.
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, berselang dua bulan melalui maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Soekarno kemudian menunjuk modandan pleton pertaman TKR adalah Soepriyadi. Dalam perkembangan selanjutnya TKR kemudian diubah menjadi Tentara Repoblik Indoneisa (TRI). Setelah kemerdekaan sekutu getol mengembalikan penjajahan, sehingga memicu lahir lascar perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan, selain TRI sebagai organisasi militer yang sah maka pemerintah berupaya menyatukan antara TRI dengan lascar-laskar pejuang kemerdekaan Indonesia. Pemerintah kemudian berupaya menyatukan dua kekuatan bersenjata yaitu TRI sebagai Tentara Reguler dan lascar-laskar pejuang kemerdekaan, maka pada 3 Juni 1947 Soekarno mengesahkan berdirinya tentara nasional Indonesia (TNI). Kemudian setelah dilangsungkan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949, Indoensia kemudian secara sah beralih menjadi Negara Federasi dengan nama Repoblik Indonesia Serikat, ketika menjadi negara federasi maka dibentuk pula angkatan bersenjata RIS yang dinamakan APRIS yaitu pengabungan antara TNI dan KNIL, kemudian dalam perkembangan, tepatnya pada 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi Negara kesatuan. APRIS pun kemudian berganti nama menjadi APRI.
Pada tahun 1962 dilakukan upaya penyatuan antara angkatan perang dan kepolisian negara. Institusi pertahanan dan keamanan ini digabung menjadi sebuah organisasi yang bernama angkatan bersenjata repoblik Indoenesia atau ABRI, ketika unsur-unsur militer disatukan menjadi satu yaitu ABRI. Maka terjadi lagi perubahan bertepatan dengan perubahan dinamika politik di Indonesia.
2. Perkembangan Militerisme
Perkembangan organisasi militer di Indonesia, perkembanganya cukup maju, setelah Reformasi 1998 perubahan dinamika politik dalam tubuh organisasi militer-pun mengalami transformasi, pada dasarnya yang kita tugas-tugas pokok militer adalah menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara, tetapi ketika peralihan kekuasaan, Orde baru sampai Reformasi Organisasi Militer kemudian mulai masuk intervensi politk parktis di Indonesia, atau peran militer dalam lembaga pemerintahan mulai masuk, salah-satunya ketika Soeharto menjadi kepala Negara hal itu menunjukan intervensinya kekuatan Militer dalam lembaga pemerintahan sipil. Bahkan sampai hari ini.
Bahkan perkembanganya hari ini cukup maju, ketika DPR merevisi UU TNI, dalam undang-undang itu secara sederhana sangat membuka lebar jalan bagi perwira-perwira militer untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam masyrakat sipil. Indoprogress merilis survei ditahun 2014 ketika pertarungan elit antara Prabowo dan Jokowi, hasil survei membuktikan bahwa posisi militer itu sepenuhnya mendukung Prabowo dalam Pemilu Nanti. Hal itu menandakan bahwa Organisasi militer sebagai sebuah keamanan yang netral dapi dalam perkembangan kemudian militer ini diberikan kebebsan seluas-luasnya untuk masuk dalam rana sipil.
3. Militerisme Dalam Perspektif Kelas
Membicarakan tentang organisasi kemiliteran, kita harus membicarakanya mengunakan pendekatan kelas dalam analisis Marxis, yang pertama kita melihat Negara harus secara struktural, selain lembaga pemerintahan sipil Negara kemudian mempunyai organisasi-organisasi keamanan salah-satunya adalah Militer.
Seiring perkembangan kapitalisme di Indonesia yang kemudian menghantam sarana-sarana produksi rakyat, dan perkembangan kapitalisme di Indonesia didirek langsung oleh kekuatan Negara hari ini. Kekuatan militer cukup berperan aktif dalam hal melindungi dan mendorong maju perkembangan kapitalisme. Coba kita perhatikan disemua proyek-proyek Capitalisme dibangun pos-pos keamanan militer sebagai tameng keamanan jika sewaktu-waktu ada perlawanan dari gerakan rakyat.
Karena sudah jelas organisasi kemiliteran cukup berperan mendorong maju kapitalisme di Indoensia, maka bisa dikatakan bahwa militer Indonesia mewakili kepentingan kelas Borjuasi (penguasa). Dan keberpihakan pada kelas penguasa itu cukup menyengsarakan kelas proletariat dalam kehidupanya. Keberpihakan itu bisa dilihat ketika ada perlawanan rakyat proletariat atas sebuah masalah yang diciptakan oleh negara, maka militer ini dengan gagahnya memikul senapan dan memakai lars hadir dihadapan rakyat bukan untuk membantu, tetapi melakukan tindakan represifitas kepada perlawanan rakyat itu.
Kita harus sadar bahwa organisasi kemiliteran bukan lagi bekerja pada tugas-tugas pokoknya yaitu menjaga kedaulatan negara dan keamanan rakyat, tetapi hari ini militer Indonesia mempunyai posisi kelas yang jelas yaitu mewakili kepentingan kelas penguasa, kita harus sadar selain negara musuh rakyat tenyata militerisme juga cukup berbahaya di Indonesia, selain membahayakan mereka juga sudah ikut serta dalam dinamika politik elit.
Daftar Pustaka
1. Rilisan kompas (Sejarah singkat ABRI).
2. Indoprogress (Bahaya Militerisme).
Penulis: El (Cord Presidium Unkhair II)
Editor: Denzz

0 Komentar